NAMA : TSENI NURISYARA
NIM :
014.041.0172
PRODI : PGMI
SEMESTER : II
(DUA)
ATTENTION DEFICIT DISORDER WITH HYPERACTIVE (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak
hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang
lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan
suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek,
mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau
arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah.
Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
Hal ini ditandai dengan berbagai
keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan
selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang
berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka
meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.
I.
Gejala ADHD
Gejala atau
pertanda ADHD bisa berbeda bagi setiap orang. Gejalanya biasanya mulai tampak
saat masa anak-anak. Berikut ini adalah tiga gejala utama ADHD yang umum pada
anak-anak:
A. Hiperaktif
Tampak seperti kelebihan energi, selalu aktif dan tidak
bisa diam. Tanda-tandanya yang biasanya tampak adalah:
1. Tidak bisa bermain dengan tenang
2. Susah
berdiam diri, menggeliat, gelisah, dan sering berdiri kembali ketika
duduk
duduk
3. Selalu
bergerak, seperti berlari atau memanjat pada sesuatu
4. Tidak bisa duduk dengan tenang
B. Inattention Atau Bermasalah Pada Perhatian
Berupa gangguan atau kesulitan untuk memperhatikan
sesuatu. Gejala yang biasanya tampak antara lain:
1. Sangat susah untuk memusatkan perhatian
2. Tampak tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara
kepadanya
3. Perhatiannya sangat mudah teralihkan
4. Sering membuat kesalahan akibat kurang berhati-hati atau
karena kurang memperhatikan
- Susah mengikuti arahan atau menyelesaikan
tugas
- Sering melupakan atau menghilangkan
sesuatu
- Memiliki kecenderungan untuk mengingau
saat tidur
C. Impulsif
Penderita ADHD biasanya memiliki sifat impulsif atau
bertindak tanpa berpikir (spontan). Gejala yang dapat dikenali misalnya:
1. Kesulitan untuk menunggu giliran
- Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan
selesai atau sebelum diberi kesempatan
- Sering menginterupsi orang lain
- Bertindak impulsif tanpa memikirkan
konsekuensinya, seperti berlari di tengah acara formal, mengejar sesuatu
yang berbahaya, dsb.
II.
Penyebab ADHD
Penyebab pasti
ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek
penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak. Selain itu, terdapat tiga
faktor yang dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu:
1. Faktor genetik/keturunan. Sebagian besar penderita ADHD
mendapatkan kondisi ini dari orang tuanya. ADHD memiliki kecenderungan besar
terjadi pada keluarga/keturunan.
- Ketidakseimbangan kimia. Para ahli
meyakini bahwa ketidakseimbangan kimiawi pada otak (neurotransmitter)
merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan gejala ADHD.
- Kinerja otak. Pada anak yang menderita
ADHD, didapati bahwa area otak yang mengontrol perhatian tampak tidak
terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang tidak menderita
ADHD.
III.
Upaya Ketika Menjadi Seorang Guru ADHD
Beberapa upaya yang akan saya
lakukan ketika menjadi seorang guru yang menangani anak ADHD :
1. Menyadari Akan Gangguan
Hiperaktif Pada anak. Ini adalah merupakan cara menghadapi dan melakukan
perawatan pada anak dengan ADHD itu sendiri. Setelah kita mengetahui akan hal
ini, maka diharapkan akan timbul perasaan sayang terhadap anaknya dan tidak
membedakan kasih sayang dengan anak lain dari penderita. Sehingga kasih sayang
serta memberikan pendidikan
anak tidak dibedakan satu sama
lainnya.
2. Menghindari Akan Pemberian Label Anak Dengan Hiperaktif.
Maksudnya adalah jangan memberikan predikat negatif kepada anak yang menyandang gangguan kekurangan perhatian ini baik kepada keluarganya sendiri maupun masyarakat atau pun pada teman-teman sekolahnya. Karena bila anak telah diberikan "predikat negatif" misalnya anak nakal, anak bodoh atau pun malas atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Karena justru hal ini akan menghambat proses penyembuhan pengobatan serta perawatan anak dengan hiperaktif itu sendiri.
3. Membudayakan Sikap Disiplin. Memberikan
pendidikan dan belajar sikap disiplin pada anak tentunya berbeda pelakuannya
dengan anak normal lainnya. Mengajak anak untuk belajar disiplin secara
bertahap adalah merupakan bagian dari terapi anak hiperaktif lainnya. Dan bila
anak melakukan suatu hal yang tidak menerapkan sikap disiplin jangan mudah
untuk memberikan hukuman. Hal ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang ekstra
dari orang tuanya juga.
4. Memperbanyak Berkomunikasi
Dengan Anak. Kita tahu bahwasannya anak-anak dengan ADHD ini akan mengalami
kesulitan dalam berkonsentrasi dan juga mudah terganggu dalam perhatiannya.
Dengan kita seringkali melakukan komunikasi kepada anak kita akan membantu sang
anak dalam belajar untuk bisa memusatkan perhatian pada satu topik pembicaraan
dan komunikasi
dengan anak yang kita lakukan. Jangan pernah bosan untuk melakukan
pembicaraan dengan anak-anak semacam ini. Terus lakukan berulang-ulang secara
periodik.
5. Mengetahui Akan Kebiasaan Sang
Anak. Manfaat akan hal ini adalah dengan kia mengetahui akan kebiasaan anak
terutama dalam waktu bermain dan kesukaannya dalam melakukan permainan tertentu
akan bisa membuat orang tua mempunyai tehnik kiat khusus dalam mengatasi anak
hiperaktif ini.Kita tahu bahwa anak sulit beronsentrasi maka pada umumnya
kosentrasi anak ketika bermain sesuatu yang disenanginya akan bisa bertambah
maka ini juga bisa dijadikan waktu yang tepat dalam memberikan terapi
hiperaktif ini.
6. Luangkan Waktu Khusus Untuk
Aktifitas Anak. Kita ketahui bersama bahwasannya anak dengan hiperaktif
mempunyai energi yang berlebihan sehingga hal ini bisa kita salurkan dengan
cara yang tepat. Ajak sang anak untuk melakukan aktifitas fisik olahraga
yang bermanfaat. Bisa dilakukan di temapt terbuka atau pun tempat yang
tidak membahayakan dirinya. Bisa dengan mengajaknya berjalan-jalan. Sebuah
penelitian ada yang membuktikan bahwa dengan anak yang berjalan secara teratur
akan membantu meningkatkan daya konsentrasi sang anak.