Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 19 Januari 2016

ADHD

NAMA         : TSENI NURISYARA
NIM              : 014.041.0172
PRODI         : PGMI
SEMESTER : II (DUA)

ATTENTION DEFICIT DISORDER WITH HYPERACTIVE (ADHD)

ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.
I.                   Gejala ADHD
Gejala atau pertanda ADHD bisa berbeda bagi setiap orang. Gejalanya biasanya mulai tampak saat masa anak-anak. Berikut ini adalah tiga gejala utama ADHD yang umum pada anak-anak:
A.    Hiperaktif
Tampak seperti kelebihan energi, selalu aktif dan tidak bisa diam. Tanda-tandanya  yang biasanya tampak adalah:

1.  Tidak bisa bermain dengan tenang
2. Susah berdiam diri, menggeliat, gelisah, dan sering berdiri kembali ketika   
          duduk
3. Selalu bergerak, seperti berlari atau memanjat pada sesuatu
4.      Tidak bisa duduk dengan tenang

B.     Inattention Atau Bermasalah Pada Perhatian
Berupa gangguan atau kesulitan untuk memperhatikan sesuatu. Gejala yang biasanya tampak antara lain:
1.      Sangat susah untuk memusatkan perhatian
2.      Tampak tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara kepadanya
3.      Perhatiannya sangat mudah teralihkan
4.      Sering membuat kesalahan akibat kurang berhati-hati atau karena kurang memperhatikan
    1. Susah mengikuti arahan atau menyelesaikan tugas
    2. Sering melupakan atau menghilangkan sesuatu
    3. Memiliki kecenderungan untuk mengingau saat tidur
C.     Impulsif
Penderita ADHD biasanya memiliki sifat impulsif atau bertindak tanpa berpikir  (spontan). Gejala yang dapat dikenali misalnya:
1.       Kesulitan untuk menunggu giliran
  1. Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai atau sebelum diberi kesempatan
  2. Sering menginterupsi orang lain
  3. Bertindak impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya, seperti berlari di tengah acara formal, mengejar sesuatu yang berbahaya, dsb.
II.                Penyebab ADHD
Penyebab pasti ADHD belum diketahui secara pasti, namun para peneliti memusatkan objek penelitiannya pada kinerja dan perkembangan otak. Selain itu, terdapat tiga faktor yang dianggap mempengaruhi kondisi ADHD, yaitu:
1.       Faktor genetik/keturunan. Sebagian besar penderita ADHD mendapatkan kondisi ini dari orang tuanya. ADHD memiliki kecenderungan besar terjadi pada keluarga/keturunan.
  1. Ketidakseimbangan kimia. Para ahli meyakini bahwa ketidakseimbangan kimiawi pada otak (neurotransmitter) merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan gejala ADHD.
  2. Kinerja otak. Pada anak yang menderita ADHD, didapati bahwa area otak yang mengontrol perhatian tampak tidak terlalu aktif, dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang tidak menderita ADHD.
III.             Upaya Ketika Menjadi Seorang Guru ADHD
Beberapa upaya yang akan saya lakukan ketika menjadi seorang guru yang menangani anak ADHD :
1. Menyadari Akan Gangguan Hiperaktif Pada anak. Ini adalah merupakan cara menghadapi dan melakukan perawatan pada anak dengan ADHD itu sendiri. Setelah kita mengetahui akan hal ini, maka diharapkan akan timbul perasaan sayang terhadap anaknya dan tidak membedakan kasih sayang dengan anak lain dari penderita. Sehingga kasih sayang serta memberikan pendidikan anak tidak dibedakan satu sama lainnya.

2. Menghindari Akan Pemberian Label Anak Dengan Hiperaktif.
Maksudnya adalah jangan memberikan predikat negatif kepada anak yang menyandang gangguan kekurangan perhatian ini baik kepada keluarganya sendiri maupun masyarakat atau pun pada teman-teman sekolahnya. Karena bila anak telah diberikan "predikat negatif" misalnya
anak nakal, anak bodoh atau pun malas atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Karena justru hal ini akan menghambat proses penyembuhan pengobatan serta perawatan anak dengan hiperaktif itu sendiri.
3. Membudayakan Sikap Disiplin. Memberikan pendidikan dan belajar sikap disiplin pada anak tentunya berbeda pelakuannya dengan anak normal lainnya. Mengajak anak untuk belajar disiplin secara bertahap adalah merupakan bagian dari terapi anak hiperaktif lainnya. Dan bila anak melakukan suatu hal yang tidak menerapkan sikap disiplin jangan mudah untuk memberikan hukuman. Hal ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang ekstra dari orang tuanya juga.
4. Memperbanyak Berkomunikasi Dengan Anak. Kita tahu bahwasannya anak-anak dengan ADHD ini akan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan juga mudah terganggu dalam perhatiannya. Dengan kita seringkali melakukan komunikasi kepada anak kita akan membantu sang anak dalam belajar untuk bisa memusatkan perhatian pada satu topik pembicaraan dan komunikasi dengan anak yang kita lakukan. Jangan pernah bosan untuk melakukan pembicaraan dengan anak-anak semacam ini. Terus lakukan berulang-ulang secara periodik.
5. Mengetahui Akan Kebiasaan Sang Anak. Manfaat akan hal ini adalah dengan kia mengetahui akan kebiasaan anak terutama dalam waktu bermain dan kesukaannya dalam melakukan permainan tertentu akan bisa membuat orang tua mempunyai tehnik kiat khusus dalam mengatasi anak hiperaktif ini.Kita tahu bahwa anak sulit beronsentrasi maka pada umumnya kosentrasi anak ketika bermain sesuatu yang disenanginya akan bisa bertambah maka ini juga bisa dijadikan waktu yang tepat dalam memberikan terapi hiperaktif ini.

6. Luangkan Waktu Khusus Untuk Aktifitas Anak. Kita ketahui bersama bahwasannya anak dengan hiperaktif mempunyai energi yang berlebihan sehingga hal ini bisa kita salurkan dengan cara yang tepat. Ajak sang anak untuk melakukan aktifitas fisik olahraga yang bermanfaat. Bisa dilakukan di temapt terbuka atau pun tempat yang tidak membahayakan dirinya. Bisa dengan mengajaknya berjalan-jalan. Sebuah penelitian ada yang membuktikan bahwa dengan anak yang berjalan secara teratur akan membantu meningkatkan daya konsentrasi sang anak.